Sabtu, 24 Mei 2014

Tiada musim semi di bulan Mei


Ini bulan Mei  yang begitu rupa
Musim semi tak pernah singgah di sini
Hanya sesekali daun-daun berwarna pucat jatuh berserakan
Warnanya bertambah pekat seiring luka pada hati seorang perempuan

Jendela dibiarkan terbuka olehnya
Agar matanya jelas menyapa lalu lalang manusia
Pada kaki-kaki yang melintas itu
Ia berharap ada sepatu berwarna cokelat
Milik tuan bermata hangat

Daun-daun masih setia luruh bersama gerimis
Kecipak air mengalun lembut di antara langkah-langkah yang tergesa
Mengapa tiada musim lain selain musim penghujan, Tuan?
Aku bosan bertemu sejuta air mata

Bolehkah Mei yang tiada bahagia ini kutukar saja?
Aku hanya mau daun-daun bersinar seperti embun di pagi hari
Lalu matamu mengintip di balik jendela
Saat aku terjaga esok pagi
Load disqus comments

0 komentar